Cara Analisis Data dengan AI Tanpa Coding

Cara analisis data dengan AI tanpa coding: tentukan pertanyaan, siapkan data, tanya dengan bahasa sehari-hari, validasi hasil, lalu jadikan slide.

Ilustrasi alur cara analisis data dengan AI tanpa coding dari file data berantakan hingga slide presentasi siap rapat

edic Insight

  • Lima langkah, dua titik kritis. Tentukan pertanyaan bisnis, siapkan sumber data, bertanya, validasi, lalu susun output. Keberhasilannya ditentukan oleh data yang rapi dan pengecekan angka sebelum dipakai.
  • Persiapan data menyita waktu terbesar. Survei Anaconda 2020 terhadap hampir 2.400 responden mencatat memuat data menyita 19% waktu data scientist, dan membersihkan data lebih dari seperempatnya.
  • Data rapi mengikuti prinsip tidy data. Satu variabel per kolom, satu observasi per baris, tanpa judul, sel gabungan, atau subtotal di tengah tabel.
  • Format tanggal dan angka harus seragam. Pakai TTTT-BB-HH (ISO 8601) dan simpan angka tanpa pemisah ribuan, karena konvensi desimal Indonesia berbeda dengan banyak perangkat lunak.
  • Pertanyaan efektif memuat empat unsur. Metrik, periode, segmen, dan pembanding, ditambah format jawaban, dengan satu pertanyaan per pesan.
  • Validasi wajib sebelum rapat. Ketidakakuratan adalah dampak negatif AI yang paling sering dilaporkan (30%, McKinsey 2025); enam pemeriksaan membantu menangkap kesalahan seperti transaksi ganda.
  • Output dimulai dari jawaban. Susun kesimpulan dulu, lalu bukti, lalu rekomendasi, dan sesuaikan format dengan pembaca.

Cara analisis data dengan AI tanpa coding terdiri dari 5 langkah: menentukan pertanyaan bisnis, mengunggah atau menghubungkan sumber data, mengajukan pertanyaan dalam bahasa sehari-hari, memvalidasi hasil, lalu mengubah insight menjadi laporan atau slide. Keberhasilannya ditentukan di dua titik, yaitu data yang rapi sebelum dianalisis dan pemeriksaan angka sebelum hasilnya dipakai untuk keputusan.

Panduan ini bisa menjadi titik awal analisis data untuk pemula maupun tim bisnis yang ingin berhenti bergantung pada antrean tim data. Supaya setiap langkah terlihat konkret, seluruh panduan memakai satu contoh kasus dari awal sampai akhir. Jika Anda ingin memahami konsepnya lebih dulu, seperti jenis analisis dan contoh penerapan per divisi, baca artikel pengertian dan cara kerja AI untuk analisis data.

Contoh kasus yang dipakai (ilustrasi): Sebuah perusahaan distribusi barang konsumsi memiliki 12 cabang. Pendapatan kuartal III berada di bawah target, dan Head of Sales harus menjelaskan penyebabnya dalam rapat direksi minggu depan. Datanya tersebar di tiga tempat: transaksi dari sistem penjualan, target per cabang di spreadsheet tim sales, dan jadwal promo di file milik tim marketing. Tidak ada anggota tim yang menulis SQL atau Python.


Kenapa Analisis Data Tidak Lagi Harus Memakai SQL atau Python?

Analisis data tidak lagi harus memakai SQL atau Python karena platform AI kini mampu menerjemahkan pertanyaan berbahasa sehari-hari menjadi perhitungan, lalu menjalankannya langsung pada data. Pengguna bisnis cukup memahami pertanyaan yang ingin dijawab dan cara memeriksa hasilnya. Penulisan query dan kode dikerjakan oleh sistem.

SQL (Structured Query Language) adalah bahasa standar untuk mengambil dan mengolah data dari database. Python adalah bahasa pemrograman yang banyak dipakai analis untuk membersihkan data, menghitung statistik, dan membuat grafik. Keduanya tetap penting bagi tim data, terutama untuk membangun pipeline data dan model yang kompleks. Yang berubah adalah pertanyaan rutin seperti “cabang mana yang paling jauh dari target?” kini bisa dijawab lewat analisis data tanpa coding, langsung oleh orang yang membutuhkan jawabannya.


Persiapan Data: Struktur Tabel, Header, Tanggal, dan Angka

Persiapan data sebelum analisis mencakup 3 hal: struktur tabel yang rapi dengan satu baris untuk setiap kejadian, header kolom yang jelas dan unik, serta format tanggal dan angka yang seragam. Data yang rapi membuat AI lebih jarang salah membaca kolom, sehingga waktu verifikasi di tahap berikutnya menjadi lebih singkat.

Persiapan data memang menyita porsi kerja yang besar, bahkan bagi profesional. Survei State of Data Science 2020 dari Anaconda terhadap hampir 2.400 responden di lebih dari 100 negara menemukan bahwa memuat data menyita 19 persen waktu kerja data scientist, sementara membersihkan data menyita lebih dari seperempatnya. AI dapat membantu banyak di tahap ini, tetapi beberapa kebiasaan dasar tetap perlu dijaga oleh pemilik file sebelum mengolah data dengan AI.

1. Struktur Tabel

Statistikawan Hadley Wickham merumuskan prinsip tidy data dalam Journal of Statistical Software (2014): setiap variabel menjadi satu kolom, setiap observasi menjadi satu baris, dan setiap jenis unit observasi disimpan dalam satu tabel. Dalam praktik, satu baris mewakili satu kejadian, misalnya satu transaksi atau satu tiket keluhan.

Contoh tabel penjualan yang mudah dibaca AI:

tanggal

kode_cabang

sku

qty

nilai_penjualan_rp

2026-07-01

SBY01

A-102

24

1250000

2026-07-01

MLG01

B-215

10

480000

Hindari format laporan yang dibuat untuk dicetak: judul di atas header, sel gabungan (merged cells), baris subtotal di tengah tabel, beberapa tabel dalam satu sheet, dan warna sel sebagai penanda informasi. Kalau warna dipakai untuk menandai status, misalnya merah untuk “retur”, pindahkan informasi tersebut ke kolom tersendiri.

2. Header Kolom

Header yang baik hanya terdiri dari satu baris, setiap nama kolom unik, dan namanya konsisten antarfile. Jika satu file memakai “Cabang”, file lain “Branch”, dan file ketiga “kode_cabang” untuk data yang sama, AI perlu menebak hubungan ketiganya. Sertakan satuan di nama kolom, misalnya nilai_penjualan_rp atau berat_kg. Untuk singkatan internal yang tidak bisa dihindari, siapkan kamus kolom singkat yang nanti diberikan sebagai konteks di Langkah 2.

3. Format Tanggal dan Angka

Untuk tanggal, gunakan satu format di seluruh kolom, idealnya format TTTT-BB-HH (misalnya 2026-07-03) sesuai standar internasional ISO 8601 yang diterbitkan International Organization for Standardization. Format ini menghindari ambiguitas seperti 03/07/2026, yang bisa terbaca 3 Juli atau 7 Maret bergantung pada setelan perangkat.

Untuk angka, perhatikan perbedaan konvensi. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V menetapkan tanda koma dipakai sebelum angka desimal, misalnya 17,8. Banyak perangkat lunak dengan setelan bahasa Inggris justru memakai titik untuk desimal dan koma untuk ribuan, sehingga angka “1.250” di file yang berpindah tangan bisa terbaca seribu dua ratus lima puluh atau satu koma dua lima. Cara paling aman adalah menyimpan angka tanpa pemisah ribuan dan tanpa simbol mata uang, lalu menulis satuannya di nama kolom. Pastikan juga satuannya seragam: jangan campur nilai dalam ribu rupiah dan juta rupiah di kolom yang sama.

4. Data Pribadi

Hapus atau samarkan kolom yang tidak diperlukan untuk analisis, seperti nama, nomor telepon, dan alamat pelanggan. Ganti dengan ID pelanggan jika analisis membutuhkan pembedaan per pelanggan. Pemrosesan data pribadi di Indonesia diatur oleh Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, sehingga data yang tidak relevan sebaiknya tidak ikut diunggah.

5. Checklist Data Siap Dianalisis

Cek

Contoh bermasalah

Perbaikan

Satu baris header

Judul laporan di baris 1 sampai 3

Hapus judul, sisakan satu baris header

Tanpa sel gabungan

Nama cabang di-merge untuk 10 baris

Isi nama cabang di setiap baris

Tanpa subtotal di tengah tabel

Baris “Total Jawa Timur” di antara transaksi

Hapus, biarkan AI yang menghitung total

Format tanggal seragam

Campuran 03/07/2026, 7-Jul-26, dan “Juli”

Satu format, idealnya TTTT-BB-HH

Angka tersimpan sebagai angka

“Rp1.250.000”

1250000, satuan ditulis di nama kolom

Kode konsisten

“SBY”, “Surabaya”, dan “SBY01” untuk cabang yang sama

Satu kode baku per cabang

Versi file jelas

penjualan_final_revisi2_fix.xlsx

Nama file bertanggal, misalnya penjualan_2026-09-30.xlsx

Data pribadi

Kolom nama dan nomor telepon pelanggan

Hapus atau ganti dengan ID pelanggan


Bagaimana Cara Analisis Data dengan AI? Ini 5 Langkahnya

Cara analisis data dengan AI mengikuti urutan yang sama dengan analisis konvensional, hanya saja bagian teknisnya dikerjakan sistem. Mulailah dari pertanyaan bisnis, siapkan sumber data, ajukan pertanyaan secara spesifik, periksa hasilnya, lalu kemas temuan ke format yang dibutuhkan pembaca. Kelima langkah berikut memakai contoh kasus distributor 12 cabang di atas.

1. Tentukan Pertanyaan Bisnis

Mulailah dari keputusan yang ingin diambil, lalu turunkan menjadi pertanyaan. Pertanyaan yang baik biasanya memuat empat unsur:

  1. Metrik: apa yang diukur, misalnya pendapatan atau jumlah transaksi.
  2. Periode: rentang waktu yang dianalisis.
  3. Segmen: untuk siapa atau di mana, misalnya per cabang atau per kategori produk.
  4. Pembanding: dibandingkan dengan apa, misalnya target, periode lalu, atau rata-rata cabang lain.

Contoh kasus. Keputusan yang perlu diambil Head of Sales adalah apakah target kuartal IV perlu disesuaikan atau strategi promonya yang perlu diubah. Pertanyaan utamanya: “Cabang mana yang pendapatannya paling jauh di bawah target pada kuartal III 2026, dan apa yang membedakan cabang tersebut dari cabang yang mencapai target?” Batasi diri pada maksimal tiga pertanyaan utama per sesi. Pertanyaan lain yang muncul di tengah jalan cukup dicatat untuk sesi berikutnya.

2. Unggah atau Hubungkan Sumber Data

Ada dua cara memasukkan data ke platform AI, dan pilihannya bergantung pada seberapa sering analisis yang sama akan diulang.

Cara

Cocok untuk

Catatan

Unggah file (Excel, CSV, PDF)

Analisis sekali jalan, uji coba, data berukuran kecil sampai menengah

Pastikan versi terbaru; data tidak diperbarui otomatis

Hubungkan ke sistem (database, data warehouse, data mart, ERP, POS, CRM)

Laporan rutin, data besar, banyak sumber sekaligus

Perlu izin tim TI dan pengaturan hak akses; data selalu terbaru

Setelah data masuk, berikan konteks singkat sebelum bertanya. AI tidak tahu bahwa “SBY01” berarti cabang Surabaya atau bahwa nilai penjualan Anda belum termasuk PPN, kecuali Anda menyebutkannya.

Contoh kasus. Data transaksi diambil langsung dari data mart penjualan yang dikelola tim TI, sedangkan file target dan jadwal promo diunggah manual. Konteks yang diberikan: “Kode cabang mengikuti format tiga huruf kota dan dua digit nomor cabang. Nilai penjualan dalam rupiah, belum termasuk PPN. Jadwal promo dicatat per minggu, dan satu promo bisa berlaku di beberapa cabang.”

3. Ajukan Pertanyaan dalam Bahasa Sehari-hari

Pertanyaan yang efektif memuat empat unsur dari Langkah 1, ditambah format jawaban yang diinginkan, misalnya tabel, grafik, atau ringkasan tiga poin. Ajukan pertanyaan secara bertahap: mulai dari gambaran besar, lalu telusuri lebih dalam berdasarkan jawaban sebelumnya. Satu pertanyaan per pesan biasanya menghasilkan jawaban yang lebih akurat daripada lima pertanyaan sekaligus.

Contoh Pertanyaan yang Kurang Spesifik dan yang Lebih Baik

Kurang spesifik

Lebih baik

Kenapa lebih baik

“Analisis data penjualan ini.”

“Hitung pendapatan per cabang pada kuartal III 2026, bandingkan dengan target, lalu urutkan dari selisih terbesar.”

Metrik, periode, pembanding, dan urutan jelas

“Kenapa penjualan turun?”

“Untuk tiga cabang dengan selisih terbesar, bandingkan jumlah transaksi, nilai rata-rata per transaksi, dan jumlah minggu promo dengan rata-rata cabang lain.”

Memecah “penyebab” menjadi faktor yang bisa diukur

“Buatkan grafik.”

“Buat grafik batang selisih pendapatan terhadap target per cabang. Beri warna berbeda untuk cabang yang di bawah target.”

Jenis grafik dan pesan visualnya jelas

“Prediksi penjualan.”

“Berdasarkan tren Januari sampai September 2026, buat proyeksi pendapatan Oktober sampai Desember per cabang dan sebutkan asumsi yang dipakai.”

Rentang data, horizon proyeksi, dan asumsi transparan

Contoh kasus (ilustrasi). Pertanyaan pertama menunjukkan bahwa selisih terhadap target terkonsentrasi di tiga cabang Jawa Timur. Pertanyaan kedua memperlihatkan bahwa jumlah transaksi di ketiga cabang itu relatif stabil, tetapi nilai rata-rata per transaksinya turun. Pertanyaan ketiga menghubungkan temuan tersebut dengan jadwal promo: ketiga cabang tidak mendapat promo paket bundling yang berjalan di cabang lain sepanjang Agustus.

4. Validasi Hasil

Validasi adalah langkah yang paling sering dilewatkan, padahal risikonya nyata. Dalam survei global McKinsey yang terbit November 2025, ketidakakuratan menjadi dampak negatif penggunaan AI yang paling sering dilaporkan responden, yaitu 30 persen. Sebelum hasil analisis dibawa ke rapat, lakukan enam pemeriksaan berikut:

  1. Cek sumber dan periode data. Pastikan AI memakai tabel, file, dan rentang tanggal yang benar.
  2. Cocokkan angka kunci. Bandingkan satu atau dua angka total dengan laporan resmi yang sudah ditutup oleh tim keuangan.
  3. Minta penjelasan langkah. Tanyakan filter, rumus, dan asumsi yang dipakai AI untuk sampai pada jawabannya.
  4. Uji dengan kalimat berbeda. Ajukan pertanyaan yang sama dengan susunan kalimat lain. Jawaban yang konsisten lebih bisa dipercaya.
  5. Bedakan korelasi dari sebab akibat. Dua hal yang terjadi bersamaan belum tentu saling memengaruhi. Cari faktor lain yang mungkin berperan.
  6. Catat keterbatasan. Tuliskan data yang belum tersedia atau asumsi yang belum terbukti.

Contoh kasus (ilustrasi). Total pendapatan Juli dan September cocok dengan laporan keuangan, tetapi angka Agustus lebih tinggi. Setelah ditelusuri, salah satu cabang sedang memigrasi sistem kasir sehingga transaksi empat hari tercatat ganda. AI diminta mengecualikan duplikat tersebut dan menghitung ulang, dan hasilnya cabang itu ternyata berada lebih jauh di bawah target daripada perkiraan awal. Tim juga memeriksa data stok untuk memastikan turunnya nilai transaksi tidak disebabkan oleh stok kosong sebelum menyimpulkan bahwa absennya promo bundling adalah faktor utama.

5. Ubah Insight Menjadi Laporan atau Slide

Susun output dengan urutan jawaban lebih dulu, baru bukti, lalu rekomendasi. Pembaca di level direksi umumnya ingin tahu kesimpulan dan keputusan yang diminta dalam beberapa detik pertama, sedangkan detail angka cukup tersedia sebagai pendukung. Sesuaikan formatnya dengan pembaca:

Pembaca

Format

Isi utama

Direksi

3 sampai 5 slide

Kesimpulan, dua atau tiga temuan pendukung, rekomendasi, dan keputusan yang diminta

Manajer cabang

Dashboard atau laporan per cabang

Angka cabang masing-masing dibanding target dan rata-rata cabang lain

Tim lintas divisi

Ringkasan lewat email atau pesan

Tiga poin temuan beserta tindak lanjut dan penanggung jawabnya

Contoh kasus. Head of Sales meminta AI menyusun empat slide untuk rapat direksi:

  1. Kesimpulan: “Selisih target kuartal III terkonsentrasi di tiga cabang Jawa Timur dan berkaitan dengan turunnya nilai rata-rata transaksi.”
  2. Bukti: grafik selisih pendapatan terhadap target per cabang.
  3. Penyebab: perbandingan nilai transaksi dan keikutsertaan promo antara cabang yang mencapai target dan yang tidak.
  4. Rekomendasi dan keputusan: uji coba promo bundling di tiga cabang tersebut pada Oktober, lalu tinjau ulang target kuartal IV setelah hasilnya terlihat.

Lampiran berisi definisi data, asumsi, dan catatan validasi dari Langkah 4, termasuk koreksi transaksi ganda. Cantumkan juga sumber data dan tanggal penarikannya di setiap slide yang memuat angka, supaya pembaca tahu seberapa mutakhir datanya.


Kesalahan Umum Pemula Saat Analisis Data dengan AI

Kesalahan yang paling sering dilakukan pemula saat analisis data dengan AI bersumber dari dua hal: pertanyaan yang terlalu umum dan kepercayaan berlebihan pada jawaban pertama. Sebagian besar kesalahan ini mudah dicegah dengan kebiasaan sederhana, seperti menulis pertanyaan yang spesifik, merapikan data sebelum diunggah, dan selalu mencocokkan angka kunci.

Kesalahan

Akibat

Cara mencegah

Bertanya terlalu umum

Jawaban dangkal dan sulit ditindaklanjuti

Sertakan metrik, periode, segmen, dan pembanding

Mengunggah file berformat laporan cetak

AI salah membaca kolom karena judul, subtotal, atau sel gabungan

Jalankan checklist data sebelum mengunggah

Memakai file versi lama

Kesimpulan diambil dari data yang sudah usang

Beri tanggal pada nama file atau hubungkan langsung ke sistem

Menerima angka tanpa dicek

Angka keliru tampil di rapat direksi

Cocokkan total dengan laporan resmi

Menganggap korelasi sebagai sebab

Rekomendasi tidak menyelesaikan masalah

Periksa faktor lain dan minta data pendukung

Langsung meminta prediksi

Proyeksi tanpa pemahaman kondisi saat ini

Mulai dari analisis deskriptif dan diagnostik

Mengunggah data pribadi tanpa disamarkan

Risiko pelanggaran UU Pelindungan Data Pribadi

Hapus atau ganti kolom identitas dengan ID

Tidak mencatat pertanyaan dan asumsi

Analisis sulit diulang bulan berikutnya

Simpan daftar pertanyaan dan asumsi di lampiran laporan


Kesimpulan

Analisis data dengan AI bisa dilakukan tanpa coding selama prosesnya runtut: pertanyaan bisnis yang jelas, data yang rapi, pertanyaan yang spesifik, validasi sebelum presentasi, dan output yang disesuaikan dengan pembaca. Dua kebiasaan memberi dampak paling besar, yaitu merapikan data sebelum diunggah dan mencocokkan angka kunci sebelum hasilnya dipakai. Mulailah dari satu laporan rutin, ulangi lima langkah ini, lalu perluas ke pertanyaan lain setelah tim terbiasa.

EDIC adalah AI workspace untuk enterprise yang menghubungkan pengetahuan perusahaan, data bisnis, dan alur kerja dalam satu tempat. Ketika data masih tersebar di file Excel, SAP, dan sistem penjualan, EDIC dapat terhubung langsung ke data warehouse atau data mart perusahaan sekaligus membaca file yang diunggah, sehingga tim tidak perlu menggabungkan data secara manual sebelum bertanya. Pertanyaan diajukan dalam bahasa sehari-hari, lalu EDIC menyusun jawabannya menjadi grafik, laporan, presentasi siap rapat, hingga dashboard yang diperbarui otomatis. Lihat cara EDIC mengubah sumber data menjadi laporan dan slide untuk gambaran alurnya.



Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Cara Analisis Data dengan AI

Apakah analisis data dengan AI benar-benar bisa dilakukan tanpa coding?

Bisa, untuk sebagian besar kebutuhan analisis bisnis sehari-hari seperti rekap, perbandingan, tren, dan visualisasi. Platform AI menerjemahkan pertanyaan berbahasa sehari-hari menjadi perhitungan secara otomatis. Untuk pemodelan yang sangat kompleks atau pipeline data skala besar, keterlibatan tim data tetap disarankan.

Format file apa yang paling mudah diolah dengan AI?

CSV dan Excel dengan satu tabel per sheet, satu baris header, dan tanpa sel gabungan adalah format yang paling mudah diolah dengan AI. PDF juga bisa dibaca, tetapi tabel di PDF hasil pindai berisiko salah terbaca. Untuk data yang diperbarui rutin, menghubungkan platform langsung ke database atau data mart lebih andal daripada mengunggah file berulang kali.

Bagaimana jika data perusahaan tersebar di beberapa sistem?

Pilih platform yang dapat terhubung ke beberapa sumber sekaligus, misalnya ERP, sistem penjualan, data warehouse, dan spreadsheet. Pastikan setiap sumber memakai kode yang konsisten, seperti kode cabang atau kode produk yang sama, agar AI bisa menghubungkan data antarsistem dengan benar.

Apakah AI bisa membaca format angka dan tanggal Indonesia?

Umumnya bisa, tetapi risiko salah baca tetap ada karena konvensi Indonesia memakai koma untuk desimal, sedangkan banyak sistem memakai titik. Cara paling aman adalah menyimpan angka tanpa pemisah ribuan, memakai format tanggal TTTT-BB-HH, dan menyebutkan konvensi yang dipakai saat memberi konteks ke AI.

Apakah hasil analisis AI bisa langsung dipakai di rapat direksi?

Sebaiknya tidak sebelum divalidasi. Cocokkan angka kunci dengan laporan resmi, minta AI menjelaskan asumsi yang dipakai, dan catat keterbatasan data. Setelah itu, hasil analisis dapat disusun menjadi slide dengan kesimpulan di awal dan bukti pendukung di belakangnya.

Apakah perlu belajar statistik sebelum memakai AI untuk analisis data?

Tidak perlu menguasai rumus statistik, tetapi pemahaman dasar sangat membantu. Konsep seperti rata-rata dan median, persentase perubahan, serta perbedaan korelasi dan sebab akibat membuat Anda lebih mudah mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengenali jawaban yang janggal.


Referensi & metodologi

Metodologi

Sumber data

Data porsi waktu persiapan data berasal dari survei State of Data Science 2020 oleh Anaconda, sebagaimana dilaporkan BigDATAwire [2]. Data risiko ketidakakuratan AI berasal dari survei global McKinsey The State of AI in 2025 [1].

Standar dan kerangka

Prinsip struktur tabel mengikuti konsep tidy data dari Hadley Wickham [3]. Rekomendasi format tanggal mengacu pada ISO 8601 [4], dan konvensi angka desimal mengacu pada EYD Edisi V [5] [6].

Contoh kasus

Kasus distributor 12 cabang, termasuk angka, temuan, dan koreksi transaksi ganda, adalah skenario ilustratif untuk memperlihatkan alur kerja, bukan data atau studi kasus pelanggan.

Catatan angka

Survei Anaconda dilakukan pada 2020, sehingga dipakai sebagai gambaran besarnya porsi kerja persiapan data, bukan angka terkini.

Regulasi

Anjuran menyamarkan data pribadi merujuk UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi [7].

Proses tinjauan

Angka dan kutipan dicocokkan dengan sumber aslinya sebelum terbit, dan artikel ditinjau ulang bila ada pembaruan data atau regulasi.

Referensi

[1] McKinsey & Company. The State of AI in 2025: Agents, Innovation, and Transformation, 5 November 2025. mckinsey.com

[2] BigDATAwire. Data Prep Still Dominates Data Scientists' Time, Survey Finds (laporan survei Anaconda 2020). hpcwire.com

[3] Hadley Wickham. Tidy Data. Journal of Statistical Software Vol. 59 No. 10, 2014. vita.had.co.nz

[4] International Organization for Standardization. ISO 8601 Date and Time Format. iso.org

[5] Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V. ejaan.kemdikbud.go.id

[6] detikEdu. Penggunaan Tanda Koma Menurut EYD Edisi V. detik.com

[7] JDIH BPK. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. peraturan.bpk.go.id